Random Posts

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 21 Februari 2026

Sahor Bangun Ritonga: Substansi Program Lebih Utama Dibanding Seremonial Pelantikan Lokal

Sahor Bangun Ritonga: Substansi Program Lebih Utama Dibanding Seremonial Pelantikan Lokal


PADANGSIDIMPUAN – 

Koordinator Program Krida Manunggal Budaya (KMB) Kota Padangsidimpuan, Sahor Bangun Ritonga, menegaskan bahwa fokus utama organisasi seharusnya terletak pada implementasi program kerja yang nyata daripada sekadar perayaan pelantikan di tingkat daerah. Pernyataan ini disampaikan Sahor menyikapi dinamika organisasi di wilayah Sumatera Utara. 

Menurut praktisi hukum kondang di Padangsidimpuan ini, pandangannya selaras dengan visi Ketua Umum DPP Krida Manunggal Budaya Sumut, Bapak Handoko, yang mengedepankan efektivitas dan kebermanfaatan organisasi bagi masyarakat.

Menomorduakan Seremonial Lokal

Sahor menilai, pelantikan pengurus di tingkat daerah secara terpisah seringkali memakan energi dan sumber daya yang besar namun minim dampak substantif.

"Pelantikan tingkat lokal itu sebenarnya tidak terlalu mendesak. Yang lebih penting adalah bagaimana program-program KMB (Krida Manunggal Budaya) Sumut bisa dirasakan langsung oleh masyarakat di Padangsidimpuan," ujar Sahor Bangun Ritonga saat ditemui.

Mendukung Wacana Pelantikan Massal

Meski menganggap pelantikan lokal bukan prioritas utama, Sahor memberikan pengecualian terhadap wacana Pelantikan Massal yang dicanangkan oleh DPP. Menurutnya, agenda tersebut jauh lebih efisien dan memiliki nilai strategis yang kuat.

Efisiensi Anggaran: Menyatukan prosesi pelantikan dari berbagai daerah dalam satu waktu dan tempat.

Solidaritas Organisasi: Menunjukkan kekuatan dan kesatuan KMB di bawah komando Bapak Handoko.

Fokus Kerja: Setelah pelantikan massal selesai, seluruh pengurus bisa langsung tancap gas menjalankan program kerja tanpa terbebani urusan seremonial yang berlarut-larut.

"Pelantikan massal yang dicanangkan DPP perlu diadakan. Ini adalah langkah taktis agar kita semua memiliki titik start yang sama dan bisa langsung fokus pada pengabdian budaya dan sosial," tambahnya.


Sebagai Koordinator Program KMB Padangsidimpuan, Sahor berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap agenda yang dijalankan di wilayahnya sejalan dengan garis instruksi pusat, sembari tetap menjaga marwah hukum dan budaya di Bumi Angkola. 



DPD KMB SUMUT PADANGSIDIMPUAN, 22/02/2026



Syahdu Lantunan Al-Quran di Masjid Lama Al-Madani: Tradisi Tadarus yang Tak Lekang oleh Zaman

Syahdu Lantunan Al-Quran di Masjid Lama Al-Madani: Tradisi Tadarus yang Tak Lekang oleh Zaman


PADANGSIDIMPUAN

Memasuki malam-malam penuh berkah, suasana di Masjid Lama Al-Madani, Kelurahan Sitamiang Baru, Kota Padangsidimpuan, tampak berbeda. 

Bukan sekadar tempat ibadah, masjid bersejarah ini bertransformasi menjadi pusat energi spiritual yang mempertemukan lintas generasi dalam satu balutan seni: 

Lantunan Ayat Suci Al-Quran.



Tradisi tadarusan yang digelar setiap malam ini bukan sekadar rutinitas, melainkan panggung bagi harmoni suara yang memecah keheningan malam di Sitamiang Baru.

Harmoni Antar Generasi: Dari Sesepuh hingga Remaja

Pemandangan di dalam masjid memperlihatkan kontras yang indah. Di satu sudut, para orang tua dengan khidmat menyimak setiap huruf yang keluar, sementara di sudut lain, kelompok muda-mudi duduk melingkar dengan semangat yang meluap.

Semangat Orang Tua: Bagi para tetua di Sitamiang Baru, tadarus adalah cara menjaga "nadi" masjid tetap berdenyut. Kehadiran mereka menjadi jangkar moral dan teladan bagi yang muda.

Energi Muda-Mudi: Tidak mau kalah, generasi Z dan milenial di lingkungan ini terlihat antusias. Mereka membawa gaya bacaan yang segar dengan penguasaan tajwid dan naghom (seni irama) yang mulai terasah.

Seni yang Menggetarkan Jiwa

Kegiatan tadarus di Masjid Al-Madani ini juga menjadi ajang unjuk kebolehan dalam Seni Tilawah. Suara merdu yang meliuk-liuk dalam irama Bayyati, Hijaz, atau Nahawand seringkali terdengar, membuat para jamaah yang hadir betah berlama-lama.


"Mendengar anak-anak muda kita berani melantunkan ayat suci dengan irama yang indah adalah kebahagiaan tersendiri. Ini membuktikan bahwa Al-Quran tetap punya tempat di hati mereka di tengah gempuran teknologi," ujar salah satu pengurus masjid.



Kenapa Ini Penting?

Pelestarian Tradisi: Menjaga marwah Masjid Lama Al-Madani sebagai pusat peradaban Islam di Sitamiang Baru.

Filter Sosial: Menjadi wadah positif bagi remaja agar terhindar dari kegiatan malam yang tidak bermanfaat.

Silaturahmi: Mempererat ikatan bertetangga (ukhuwah islamiyah) antar warga Sitamiang Baru.

Kegiatan ini membuktikan bahwa di tengah modernitas kota Padangsidimpuan, syiar Islam melalui seni baca Al-Quran masih menjadi magnet yang kuat bagi masyarakatnya.



DPD KMB PADANGSIDIMPUAN, 21/02/2026

Misteri di Balik Aroma Kendang: Mengapa Pemain Jaran Kepang Kerap Mencium Alat Musik Tradisional?

Misteri di Balik Aroma Kendang: Mengapa Pemain Jaran Kepang Kerap Mencium Alat Musik Tradisional?

PADANGSIDIMPUAN – 21/02/2026

Pernahkah Anda memperhatikan atraksi Jaran Kepang (Kuda Lumping) di mana para pemainnya, terutama saat berada dalam kondisi trance atau 'ndadi', tiba-tiba mendekat dan mencium atau menghirup aroma kendang? Fenomena unik ini sering dianggap mistis oleh penonton awam. Namun, ternyata ada fakta menarik yang menyertainya.

Ketua Bidang Pengembangan dan Penelitian DPD KMB (Krida Manunggal Budaya) Kota Padangsidimpuan, Rival, memberikan penjelasan yang mendalam mengenai fenomena ini. Menurutnya, aksi tersebut bukanlah sekadar gerakan tanpa makna, melainkan sebuah interaksi spiritual dan sensorik yang "sangat luar biasa."

Ikatan Emosional dan "Nafas" Tradisi

​Menurut Rival, ada beberapa faktor kunci yang membuat interaksi antara pemain dan kendang begitu kuat:

Pusat Energi (Komando):

Dalam kesenian Jaran Kepang, kendang adalah "jantung" dari seluruh pertunjukan. Irama kendang mengatur tempo, dinamika, hingga intensitas energi para pemain. Mencium kendang adalah simbol penghormatan terhadap sumber energi tersebut.

Aroma Kayu dan Kulit Alami: 

Kendang tradisional dibuat dari kayu pilihan dan kulit hewan asli. Rival menjelaskan bahwa aroma khas dari material alami ini memiliki efek menenangkan sekaligus memicu fokus yang dalam bagi pemain yang sedang menari.

Koneksi Spiritual: 

Bagi para pelaku seni di wadah KMB Padangsidimpuan, alat musik bukan sekadar benda mati. Mencium kendang melambangkan penyatuan diri antara raga penari dengan jiwa musik tradisional itu sendiri.

    ​"Aksinya terlihat sederhana, tapi maknanya sangat luar biasa. Ada semacam pertukaran energi. Penari merasa mendapatkan kekuatan tambahan atau ketenangan saat menghirup aroma kendang yang tengah dimainkan dengan ritme tinggi," ujar Rival. 

     

Penelitian dan Pengembangan Budaya

​Sebagai sosok yang membidangi penelitian dan pengembangan di Organisasi DPD KMB Padangsidimpuan, Rival menekankan pentingnya masyarakat memahami sisi filosofis di balik atraksi yang terlihat misteri. Ia ingin memastikan bahwa warisan budaya seperti Jaran Kepang tetap lestari di Kota Padangsidimpuan dengan narasi yang edukatif, bukan hanya sekadar tontonan magis.

​Fenomena ini membuktikan bahwa kesenian tradisional kita memiliki kedalaman rasa yang melampaui logika visual semata. Antara bunyi, aroma, dan gerak, semuanya menyatu dalam satu harmoni yang magis.



DPD KMB PADANGSIDIMPUAN, 21/02/2026

Kamis, 19 Februari 2026

Menjemput Harmoni yang Hilang: Menilik Peluang Revitalisasi Alat Musik Tradisional di Sekolah Padangsidimpuan

Menjemput Harmoni yang Hilang: Menilik Peluang Revitalisasi Alat Musik Tradisional di Sekolah Padangsidimpuan

PADANGSIDIMPUAN – 20/02/2026

Di sudut-sudut gudang beberapa sekolah di Kota Padangsidimpuan, debu tebal tampak menyelimuti perangkat alat musik tradisional daerah. Alat-alat musik yang seharusnya menjadi identitas budaya daerah ini kini dalam kondisi terbengkalai, menanti tangan-tangan kreatif untuk kembali memainkannya.


Kondisi ini memicu keprihatinan sekaligus melihat adanya peluang besar untuk menghidupkan kembali ekstrakurikuler seni budaya yang lebih autentik.


Mengapa Terbengkalai?


Beberapa faktor ditengarai menjadi penyebab redupnya gema musik tradisional di lingkungan sekolah:


Kurangnya Tenaga Pelatih: Banyak sekolah memiliki alatnya, namun tidak memiliki guru atau instruktur yang mahir memainkannya.


Dominasi Tren Modern: Arus musik digital dan instrumen modern membuat minat siswa terhadap alat musik pukul dan tiup tradisional menurun.


Masalah Inventaris: Alat musik seringkali dianggap sebagai aset fisik belaka tanpa ada program perawatan dan pemanfaatan yang berkelanjutan.


Peluang dan Langkah Strategis


Menghidupkan kembali alat musik ini bukan sekadar soal "memperbaiki barang lama", melainkan investasi karakter bagi generasi muda di Kota Salak. 


Berikut adalah beberapa peluang yang bisa diambil:


Langkah Aksi Dampak Diharapkan:
Kolaborasi seniman lokal seniman multiplayer di Sidimpuan dihadirkan ke sekolah sebagai mentor (Seniman Masuk Sekolah).


Restorasi Alat Musik:


Memperbaiki alat musik yang rusak atau menyetel ulang nada yang rusak untuk layak pakai.


Festival Seni Pelajar: 

Mengadakan kompetisi antar sekolah secara rutin untuk memacu semangat kompetitif siswa.


Digitalisasi Tradisi:


Menggabungkan alat musik tradisional dengan aransemen modern (etnik-kontemporer) agar lebih relevan di telinga milenial.


Suara dari Lapangan

"Kita punya hartanya, tapi kuncinya hilang. Anak-anak sekarang sebenarnya punya rasa ingin tahu yang besar, mereka hanya butuh pemicu dan fasilitas yang layak," ujar salah satu praktisi seni budaya di Padangsidimpuan.



Revitalisasi ini diharapkan tidak hanya menyelamatkan fisik alat musik yang ada, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal dalam setiap ketukannya. 


Jika dikelola dengan serius, sekolah-sekolah di Padangsidimpuan bisa menjadi benteng  pelestarian budaya yang membanggakan.



DPD KMB PADANGSIDIMPUAN, 20/02/2026

Selasa, 17 Februari 2026

Fenomena Budaya: "Kopi dan Mikrofon"

Fenomena Budaya: "Kopi dan Mikrofon"

-Padangsidimpuan, 17/02/2026

Di Padangsidimpuan, warkop bukan lagi sekadar tempat diskusi politik atau olahraga. Adanya fasilitas karaoke sederhana mengubah dinamika sosial:

Panggung Demokrasi Suara: Di sini, semua orang setara. Mulai dari supir angkot, mahasiswa, hingga ASN bisa bergantian memegang mikrofon.

Genre yang Dominan: Lagu-lagu Tapanuli (Pop Tapanuli) dan Dangdut tetap menjadi primadona. Namun, jangan kaget jika kamu menemukan anak muda yang fasih membawakan lagu indie atau pop-rock di sela-sela kepulan asap rokok warkop.

Kearifan Lokal: Ini adalah bentuk pelarian positif. Dibandingkan ke klub malam, warga lebih memilih warkop karena biaya yang murah (biasanya hanya bayar kopi atau sistem koin/sukarela).


🏆 Peluang Lomba Menyanyi (Singing Contest)


Melihat tingginya minat masyarakat, peluang untuk mengikuti atau mengadakan lomba sangat terbuka lebar. Berikut beberapa jalurnya:


1. Festival Seni Daerah (Event Tahunan)

Pemerintah Kota Padangsidimpuan biasanya mengadakan lomba menyanyi dalam rangka HUT Kota Padangsidimpuan (setiap bulan Oktober). Kategori yang sering dilombakan adalah Lagu Pop Tapanuli dan Dangdut.

2. Kompetisi Cafe ke Cafe

Beberapa cafe modern di jalanan protokol seperti Jl. Sudirman atau Jl. SM Raja sering mengadakan Live Music Contest atau malam akustik. Ini adalah batu loncatan bagi penyanyi yang ingin naik kelas dari warkop ke panggung yang lebih tertata.

3. Ajang Pencarian Bakat Nasional

Jangan lupa, banyak talenta dari Sumatera Utara (termasuk Sidimpuan) yang sukses di ajang nasional seperti Indonesian Idol atau LIDA. Latihan di warkop adalah cara terbaik untuk melatih mental menghadapi audisi besar.


💡 Tips bagi Kamu yang Ingin "Naik Kelas"


Jika kamu sering "menguasai" mikrofon di warkop dan ingin mencoba peruntungan di lomba resmi:

Perluas Repertoar: Jangan hanya hafal satu genre. Pelajari lagu-lagu hits yang sering masuk dalam setlist juri (lagu dengan teknik vokal tinggi).

Perhatikan Etika: Di warkop, kamu bernyanyi untuk santai. Di lomba, juri menilai stage act (aksi panggung) dan artikulasi.

Manfaatkan Media Sosial: Rekam momen kamu bernyanyi di warkop, lalu unggah ke TikTok atau Instagram dengan tagar lokal. Ini sering kali menarik perhatian penyelenggara acara (EO) lokal.


Budaya ini membuktikan bahwa Padangsidimpuan adalah kota yang "bernyanyi". 



DPD KMP SUMUT

 PADANGSIDIMPUAN, 17/02/2026

Minggu, 15 Februari 2026

Sinergi Revitalisasi Budaya, DPD Krida Manunggal Budaya Padangsidimpuan Siap Perkuat Kemitraan Strategis

Sinergi Revitalisasi Budaya, DPD Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan Siap Perkuat Kemitraan Strategis

PADANGSIDIMPUAN – 15/02/2026

Upaya pelestarian nilai-nilai tradisional di Sumatera Utara mendapatkan angin segar dengan hadirnya organisasi Krida Manunggal Budaya (KMB) di Kota Padangsidimpuan.


Sebagai wadah pengembangan seni, KMB menyatakan kesiapannya untuk menjadi mitra strategis dalam berbagai kebutuhan penampilan seni hingga proyek revitalisasi budaya yang mendesak.


Kehadiran organisasi ini diharapkan mampu menjawab tantangan zaman di mana penetrasi budaya asing kian masif, sementara ruang bagi seniman lokal seringkali terbatas.


Fokus pada Kemitraan dan Revitalisasi

Organisasi ini memosisikan diri bukan sekadar sebagai kelompok seni biasa, melainkan sebuah ekosistem profesional. KMB menegaskan komitmennya dalam menjalin kemitraan, baik dengan pemerintah daerah, sektor swasta, maupun komunitas masyarakat dalam penyediaan jasa penampilan seni yang berkualitas dan otentik.


Selain aspek performatif, KMB juga menitik beratkan pada revitalisasi budaya, yakni menghidupkan kembali tradisi-tradisi yang mulai luntur melalui pendampingan dan pelatihan bagi generasi muda.


Optimisme Seniman Multitalenta
Tokoh seniman yang juga dikenal memiliki kemampuan multitalenta, Wahyu Diyono, menyampaikan pandangan optimisnya terhadap masa depan organisasi ini.


Menurutnya, pondasi yang dibangun oleh Krida Manunggal Budaya sangat kokoh karena menggabungkan idealisme seni dengan manajemen organisasi yang terukur.


"Saya sangat optimis Krida Manunggal Budaya akan mengalami kemajuan yang pesat. Dengan SDM yang ada dan semangat kolaborasi yang kita usung, wadah ini akan menjadi motor penggerak kebudayaan di Sumatera Utara, khususnya di Padangsidimpuan," ujar Wahyu Diyono dalam keterangannya.


Poin Utama Visi Krida Manunggal Budaya:


Wadah Pengembangan: Menjadi pusat inkubasi bakat seni lokal.


Kemitraan Strategis: Membuka ruang kolaborasi untuk acara seremonial, festival, hingga edukasi.


Revitalisasi: Melakukan pendokumentasian dan praktik ulang seni tradisi agar tetap relevan.


Akselerasi Kemajuan: Memanfaatkan jaringan seniman profesional untuk memperluas jangkauan organisasi.


Dengan semangat kebersamaan (Manunggal), Krida Manunggal Budaya kini bersiap mengambil peran sentral dalam menjaga marwah kebudayaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pegiat seni di dalamnya.




DPD KMB SUMUT PADANGSIDIMPUAN

15 Februari 2026

Pengurus Organisasi DPD Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan Jajal Mainkan Wayang Kulit di Kediaman Seniman Seni dan Budaya Jawa Di Tapsel Batang Toru

Pengurus Organisasi DPD Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan Jajal Mainkan Wayang Kulit di Kediaman Seniman Seni dan Budaya Jawa Di Tapsel Batang Toru


TAPANULI SELATAN – 15/02/2026

Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti pertemuan pengurus Paguyuban Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumatera Utara koordinator wilayah Padangsidimpuan saat berkunjung ke Kabupaten Tapanuli Selatan baru-baru ini.


Bukan sekadar pertemuan rutin, momen ini menjadi unik ketika pengurus Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan mencoba langsung memegang dan memainkan tokoh-tokoh Wayang Kulit, sebuah simbol seni tradisi yang mulai langka disentuh oleh generasi masa kini di wilayah tersebut.


Sentuhan Kreatif Sang Dalang


Dalam aksi spontan tersebut, terlihat pengurus mencoba menggerakkan tokoh wayang. Meski masih kaku dalam mengayunkan cempurit (tangkai wayang), semangat untuk merasakan beban dan detail kerajinan kulit tersebut menjadi bentuk apresiasi nyata terhadap warisan leluhur.


"Memegang wayang itu ternyata tidak semudah melihat dalang memainkannya. Ada filosofi dan berat tanggung jawab dalam setiap gerakannya," ujar salah satu pengurus di lokasi.


Misi Menjaga Akar Budaya
Kegiatan ini dilakukan bukan tanpa alasan.
Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan memiliki misi besar untuk:


Rejuvenasi Budaya: Menghidupkan kembali minat masyarakat lokal terhadap seni tradisional Jawa di tanah Tapanuli.


Edukasi Visual: Mengenalkan jenis-jenis tokoh wayang kepada anggota agar lebih memahami karakter dan nilai moral yang dibawakan.


Sinergi Wilayah: Mempererat silaturahmi antara penggerak budaya di Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan.


Langkah kecil seperti mencoba memegang wayang ini diharapkan menjadi pemantik bagi masyarakat luas bahwa kebudayaan adalah identitas yang harus dijaga, tak peduli di mana bumi dipijak.




DPD KMB SUMUT PADANGSIDIMPUAN 

Menjaga Tradisi Lewat Adukan: 15 Tahun Eksistensi Dodol Kawan Lama Parsalakan TAPANULI SELATAN

Menjaga Tradisi Lewat Adukan: 15 Tahun Eksistensi Dodol Kawan Lama Parsalakan
TAPANULI SELATAN - ¹⁵/⁰²/²⁰²⁶


Di tengah gempuran camilan modern, sebuah tradisi kuliner khas Tapanuli Selatan (Tapsel) tetap kokoh berdiri. Dodol Kawan Lama Parsalakan, usaha UMKM yang telah bergerak selama kurang lebih 15 tahun, terus membuktikan bahwa dedikasi dan kerja keras adalah bumbu utama dalam mempertahankan cita rasa autentik.


Filosofi 8 Jam Tanpa Henti


Bukan sekadar memasak, pembuatan dodol di Parsalakan adalah uji ketahanan fisik dan kesabaran. Abdul Palid Harahap, salah seorang pekerja yang telah lama bergelut di depan kawah panas, menuturkan rahasia di balik tekstur dodol yang kenyal dan tahan lama.


"Untuk menghasilkan dodol yang sempurna, kami harus mengaduk adonan selama 8 jam tanpa henti. Jika berhenti sebentar saja, teksturnya akan rusak dan rasanya tidak akan rata," ujar Abdul di sela kesibukannya.


Adukan yang konsisten selama hampir sepertiga hari tersebut merupakan bentuk "seni" yang hanya bisa dilakukan oleh tenaga-tenaga terampil yang memiliki stamina tinggi.


Apresiasi dari Seniman Seni Dan Budaya


Kegigihan para perajin dodol ini menarik perhatian Wahyu Diyono, Pengurus Krida Manunggal Budaya Sumatera Utara (KMB Sumut) Padangsidimpuan. Saat mengunjungi lokasi produksi, ia mengaku takjub dengan proses manual yang masih dipertahankan.


Menurut Wahyu, keberadaan Dodol Kawan Lama bukan hanya soal bisnis kuliner, melainkan aset budaya yang harus dijaga.


Ketahanan Ekonomi: UMKM seperti ini adalah tulang punggung ekonomi lokal.


Identitas Daerah: Dodol merupakan simbol perekat sosial dalam berbagai acara adat di Tapsel.


Daya Tarik Wisata: Proses pembuatannya yang unik bisa menjadi daya tarik wisata edukasi bagi generasi muda.


"Ini adalah sesuatu yang sangat menarik dan luar biasa. UMKM seperti ini sangat dibutuhkan untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan sekaligus melestarikan warisan leluhur kita," ungkap Wahyu Diyono.

Sekilas Tentang Dodol Parsalakan.



  • Nama                          : Usaha Kawan Lama Parsalakan
  • Usia Usaha                  : ± 15 Tahun
  • Lama Pengadukan  : 8 Jam (Non-stop)
  • Lokasi              : Parsalakan, Tapanuli Selatan

Sekilas Tentang Dodol Parsalakan.



Dodol Kawan Lama menjadi bukti nyata bahwa di balik manisnya sepotong dodol, ada keringat dan filosofi "gotong royong" yang tak lekang oleh waktu.



DPD KMB (KRIDA MANUNGGAL BUDAYA) 

SUMUT PADANGSIDIMPUAN 

Jumat, 13 Februari 2026

Semaikan Toleransi, SDN 1 Padangsidimpuan Pelopori Tradisi Punggahan Lintas Budaya

Semaikan Toleransi, SDN 1 Padangsidimpuan Pelopori Tradisi Punggahan Lintas Budaya


PADANGSIDIMPUAN – 14/02/2026

Momentum menyambut bulan suci Ramadan tahun ini diwarnai dengan pemandangan yang menyejukkan hati di SDN 1 Padangsidimpuan. Sekolah ini mencatatkan sejarah sebagai jenjang sekolah dasar pertama di Kota Padangsidimpuan yang menyelenggarakan tradisi Punggahan di lingkungan sekolah.

Meski dikemas dengan penuh kesederhanaan, acara ini menjadi luar biasa karena menjadi potret nyata kebinekaan. Peserta didik non-muslim tampak antusias berbaur dan ikut serta dalam kemeriahan tradisi ini, membuktikan bahwa sekat perbedaan agama bukan penghalang untuk merayakan kebersamaan.

Apresiasi dari Seniman Seni dan Budaya

Keunikan acara ini menarik perhatian Wahyu Diyono, seorang Pengurus Organisasi Krida Manunggal Budaya Sumatera Utara Padangsidimpuan yang juga seniman seni dan budaya. Ia mengaku sangat bangga dan terkesan dengan inisiatif tersebut.

"Ini adalah tradisi yang sangat baik. Saya merasa senang melihatnya karena pola ini bisa diadopsi secara lebih berkesan di masa mendatang. Ini adalah bentuk kolaborasi interaktif lintas budaya di Sumatra Utara yang memang sudah erat sejak masa lalu," ujar Wahyu.

Sosok di Balik Layar: Kreativitas dan Jiwa Wirausaha


Kegiatan inspiratif ini dipelopori oleh wali kelas, Sri Amelia. Selain aktif di dunia pendidikan, Amel juga dikenal sebagai sosok yang dinamis dengan usaha produk UMKM kurma kualitas brand terbaik yang dikelolanya secara daring.

Semangat Sri Amelia dalam menginisiasi kegiatan ini dinilai sangat selaras dengan semboyan pendidikan, di mana sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan pelestarian nilai luhur budaya bangsa.

​Inisiatif ini membuktikan bahwa sekolah adalah laboratorium sosial. Dengan keterlibatan seluruh siswa tanpa memandang latar belakang, pesan persaudaraan dari "Kota Salak" ini tersampaikan dengan sangat manis, selaras dengan semangat Merdeka Belajar yang menjunjung tinggi profil pelajar Pancasila.


DPD KMB (Krida Manunggal Budaya) Sumut Padangsidimpuan. ¹⁴/⁰²/²⁰²⁶


Kamis, 12 Februari 2026

Profil : Wahyu Diyono KETUA DPD KMB (Krida Manunggal Budaya) SUMUT Padangsidimpuan

Profil : Wahyu Diyono 

KETUA DPD KMB (Krida Manunggal Budaya) SUMUT Padangsidimpuan

Wahyu Diyono adalah sosok pemimpin muda yang mendedikasikan hidupnya pada pelestarian budaya, pendidikan, dan syiar keagamaan. Lahir di Padangsidimpuan pada 4 Juni 1994, ia tumbuh dari keluarga sederhana yang memegang teguh nilai-nilai kerja keras dan integritas.


🎭 Warisan Seni & Budaya
Sebagai keturunan asli Magelang generasi ke-5, darah seni mengalir kuat dalam dirinya. Wahyu merupakan cucu dari Alm. Bin Slamet, tokoh seni legendaris yang pernah menjabat sebagai Ketua Dagelan/Jarankepang/Sintren Budi Luhur serta pengurus inti IPSI Tapanuli Selatan (1980–1990an).


 

Melanjutkan estafet semangat sang kakek yang sukses membawa binaannya menjuarai berbagai kejuaraan pencak silat antar wilayah pada masa itu.



Perjalanan karier mengajarnya membentang dari Kabupaten Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat hingga kembali ke tanah kelahirannya, Padangsidimpuan Sumatera Utara.


Ia merupakan lulusan 
dari dua institusi pendidikan:
 

IPTS ( Institut Pendidikan Tapanuli Selatan) Padangsidimpuan dan
UMN (Universitas Muslim Nusantara) Al-Washliyah Medan.


Karakternya yang sederhana membuatnya sangat dekat dengan guru-gurunya terdahulu dan memiliki jaringan relasi yang luas di berbagai kota dan kabupaten.



🕌 Pengabdian Keagamaan
Di samping kesibukan formal, Wahyu memegang teguh warisan spiritual buyutnya, Alm. Malim Gimo, seorang tokoh agama setempat. Saat ini, ia dipercaya menjadi:
Muadzin yang aktif dalam kegiatan ibadah.
Pembina Generasi Muda, fokus pada pembentukan karakter religius bagi anak muda di lingkungannya. 




















"Seni adalah identitas, pendidikan adalah jalan, dan agama adalah kompas hidup." #Pungkasnya

 

DPD KMB SUMUT PSP

 

Padangsidimpuan 12/02/2025



9

Rabu, 11 Februari 2026

MENJAGA TRADISI DI ERA MODREN

Mengenal Paguyuban Krida Manunggal Budaya Sumatera Utara

Di tengah gempuran budaya modern yang semakin kencang, hadir sebuah kabar baik bagi para pencinta seni dan tradisi di Sumatera Utara. Paguyuban Sanggar Seni Krida Manunggal Budaya secara resmi memperkenalkan diri sebagai wadah baru yang siap memperkuat fondasi kebudayaan nasional, khususnya di tanah Sumatera Utara.

Bukan Sekedar Sanggar
Tapi Amanat Konstitusi 

Lahirnya  paguyuban ini bukan sekadar ajang berkumpul biasa. Krida Manunggal Budaya memposisikan diri sebagai ruang pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Hal ini selaras dengan amanat Pasal 32 UUD 1945, di mana negara menjamin kemajuan kebudayaan Indonesia di tengah dinamika zaman yang terus berubah. Sebagai bagian dari masyarakat paguyuban ini berkomitmen untuk aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan tetap menjunjung tinggi aturan hukum yang berlaku di Indonesia. 


Visi Besar: Menjadi Perekat Pelestari Seni


Paguyuban ini membawa visi yang sangat mulia, yaitu: 

"Terwujudnya Paguyuban Sanggar Seni Krida Manunggal Budaya sebagai perekat para pelaku dan pelestari seni budaya di Sumatera Utara." 

Untuk mewujudkan mimpi besar tersebut, ada tiga misi utama (3 Pilar) yang akan dijalankan:




1. Revitalisasi Potensi: 

Menghidupkan kembali seluruh potensi seni budaya dan ekonomi kreatif kerakyatan di Sumatera Utara. 

2. Kemandirian Masyarakat:

Mendorong masyarakat agar mampu mandiri sebagai pelaku seni sekaligus penggerak ekonomi kreatif.


3. Jejaring Luas: 

Membangun koneksi seni dan budaya dari tingkat lokal hingga menembus pasar internasional.



Langkah Nyata: Ekspansi Ke kota Padangsidimpuan 




Agar dampak positif ini lebih terukur dan berdaya guna, Krida Manunggal Budaya mulai melebarkan sayapnya ke tingkat Kabupaten/Kota. Salah satu langkah konkrit yang baru saja diambil adalah pembentukan dan pengesahan struktur kepengurusan di Kota Padangsidimpuan.








Pembentukan pengurus daerah ini diharapkan menjadi "mesin" baru yang mampu mengoordinasikan para seniman lokal agar lebih terorganisir dan siap menghadapi tuntutan zaman tanpa meninggalkan akar budaya leluhur.








Penutup
Kehadiran Krida Manunggal Budaya Sumatera Utara adalah nafas segar bagi ekosistem seni di Sumatera Utara. Dengan struktur yang solid dan visi yang jelas, kita berharap warisan budaya kita tidak hanya sekadar jadi pajangan sejarah, tapi menjadi identitas yang menghidupi masyarakatnya.


 

Salam Budaya

 



KMB SUMUT
Padangsidimpuan 11 Februari 2026