Merawat Tradisi, Memperkuat Identitas: Kolaborasi Masyarakat dan Seniman dalam Pelestarian Seni Budaya
SIDAKKAL Padangsidimpuan– Semangat melestarikan warisan leluhur tampak begitu hidup di Kelurahan Sidakkal. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, kolaborasi antara Sanggar Langen Budi Utomo, Sanggar Tri Laras, dan organisasi Paguyuban DPD Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan berhasil mencuri perhatian publik. Kehadiran seni tari Jawa, seni Jaran Kepang, dan tabuhan Seni Musik Gamelan yang autentik menjadi bukti nyata bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Momentum ini bermula dari inisiatif seorang masyarakat bernama Hendry, yang melibatkan kesenian tradisional dalam acara syukuran putrinya di Sidakkal. Bagi Hendry, langkah ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk apresiasi terhadap warisan yang telah ada secara turun-temurun.
"Kesenian budaya ini adalah tontonan yang sudah ada sejak zaman dahulu hingga sekarang. Sudah sepatutnya kita menjaga keberadaannya, salah satunya dengan konsisten melibatkan kesenian dalam berbagai perhelatan masyarakat," ujar Hendry di sela-sela acara.
Apriyadi Syahputra, pengurus Sanggar Langen Budi Utomo, menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan tersebut. Menurutnya, partisipasi masyarakat seperti yang dilakukan Hendry merupakan napas utama bagi keberlangsungan sanggar.
"Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Hendry dan masyarakat yang telah memberikan ruang bagi kami untuk tampil. Dukungan nyata dari masyarakat adalah bahan bakar bagi para seniman untuk terus berkarya dan menjaga marwah seni tari Jawa, seni Jaran Kepang, dan seni musik gamelan," ungkap Apriyadi.
Pertunjukan seni yang berlangsung menghibur ini juga terasa sangat istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni. Wahyu Diyono, S.Pd., Gr., selaku Pengurus Utama Organisasi Paguyuban Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan yang juga Ketua Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan, menilai antusiasme masyarakat yang hadir sangat luar biasa. Ia menyampaikan bahwa kemampuan acara ini akan menjadi tolok ukur bagi organisasi dalam merumuskan program-program kebudayaan yang lebih berkelanjutan di masa depan. 01/06/2026
"Melihat antusiasme warga yang begitu semangat ramai menyaksikan penampilan hari ini ada yang duduk bahkan tak sedikit yang berdiri penuh dengan semangat, kami semakin yakin bahwa budaya adalah pemersatu bangsa. Momentum 1 Juni 2026 Hari Kelahiran Pancasila ini menjadi refleksi bagi kita di paguyuban untuk terus merumuskan acara-acara yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berkelanjutan dalam menjaga nilai-nilai luhur budaya kita," tutup Wahyu Diyono.
Keberhasilan dan kemampuan kolaborasi ini menjadi inspirasi bagi generasi bahwa pelestarian budaya tradisional tidak akan pernah mati selama masyarakatnya masih memegang teguh komitmen untuk menjaga, mendukung, dan menampilkan kearifan lokal dalam setiap kesempatan.











0 Comments:
Posting Komentar