Random Posts

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 13 April 2026

DPP & DPW Krida Manunggal Budaya Sumut Konsolidasi di Padangsidimpuan

DPP & DPW Krida Manunggal Budaya Sumut Konsolidasi di Padangsidimpuan


PADANGSIDIMPUAN – Semangat pelestarian seni budaya di Sumatera Utara kembali bergelora. Jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumatera Utara resmi melakukan kunjungan kerja ke Kota Padangsidimpuan. Pertemuan yang berlangsung hangat ini mengusung misi besar: "Maju Seninya, Mantap Betul Senimannya."

Meskipun dikemas dalam agenda yang sederhana, pertemuan ini berjalan dengan sangat cekatan. Pembahasan dilakukan secara terorganisir, membedah langkah-langkah strategis untuk mencapai cita-cita bersama dalam memajukan ekosistem seni yang berkualitas di Bumi Padangsidimpuan.

Arahan Ketua Umum: Dalam arahannya, Ketua Umum KMB Sumut, AD. Handoko, menekankan pentingnya profesionalisme dalam berorganisasi. Beliau berpesan agar KMB Padangsidimpuan tidak sekadar menjadi wadah berkumpul, namun harus menjadi mesin penggerak kebudayaan yang sistematis.


"Saya berharap KMB Padangsidimpuan terus bergerak dengan mekanisme yang seharusnya. Konsistensi dan ketaatan pada struktur organisasi adalah kunci agar tujuan 'Seni Mantap Betul' ini bisa kita rasakan manfaatnya secara luas," ujar AD. Handoko.

Respons KMB Padangsidimpuan: Menanggapi arahan tersebut, Wahyu beserta rekan-rekan pengurus inti KMB Padangsidimpuan menyatakan kesiapan mereka untuk mengemban amanah organisasi. Wahyu menyampaikan bahwa mereka memilih strategi yang terukur untuk memastikan keberlanjutan program.


Visi Utama: Mewujudkan program Visi & Misi KMB untuk menjadi nyata.

Strategi: Bergerak pelan tapi pasti guna membangun pondasi yang kuat.
Target: Memastikan KMB segera eksis sebagai salah satu garda depan pelestari seni di Padangsidimpuan.

Menuju Senimantul "Seni Mantap Betul"

Kunjungan ini menjadi sinyal positif bagi para seniman lokal. Dengan pembahasan yang terorganisir dan komitmen dari para pengurus, KMB Padangsidimpuan optimis dapat menciptakan pertunjukan budaya yang lebih layak bagi para pelaku seni, sekaligus mengedukasi masyarakat akan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.

Pertemuan ditutup dengan diskusi santai namun berisi, mempertegas sinergi antara pusat dan daerah demi kejayaan seni budaya Sumatera Utara.


DPD KRIDA MANUNGGAL BUDAYA SUMUT PADANGSIDIMPUAN, SABTU 11 April 2026

Terbit 13 April 2026

Jumat, 10 April 2026

Jalin Sinergi, Naposo Nauli Bulung Sitamiang Baru Lingkungan III Sambut Positif DPD Krida Manunggal Budaya

Jalin Sinergi, Naposo Nauli Bulung Sitamiang Baru Lingkungan III Sambut Positif DPD Krida Manunggal Budaya


PADANGSIDIMPUAN – Semangat kolaborasi untuk pelestarian budaya lokal semakin menguat di Kota Padangsidimpuan. Hal ini terlihat dari sambutan hangat yang diberikan oleh organisasi kepemudaan Naposo Nauli Bulung (NNB) Sitamiang Baru Lingkungan III, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, terhadap kehadiran DPD Paguyuban Krida Manunggal Budaya. Pertemuan ini menjadi momentum krusial dalam menyatukan visi antara struktur kepemudaan adat dan organisasi pelestari seni di tingkat daerah.

Dalam pertemuan yang berlangsung dengan suasana akrab dan penuh kekeluargaan, Ketua NNB Sitamiang Baru Lingkungan III, Suhemi, menyatakan apresiasi dan dukungan penuhnya terhadap visi yang diusung oleh Krida Manunggal Budaya. Menurutnya, organisasi ini membawa angin segar bagi pelestarian tradisi di tengah arus modernisasi yang kian kencang menggerus jati diri bangsa.

"Kami melihat organisasi ini memiliki prospek yang sangat baik karena menjadi wadah bagi berbagai talenta budaya daerah. Konsep keragaman budaya setempat yang diusung sangatlah relevan. Kami menyatakan siap membersamai dan bersinergi kapan pun dibutuhkan, baik dalam kegiatan sosial, budaya, maupun pengabdian masyarakat ke depannya," ujar Suhemi. Ia menekankan bahwa sinergi ini akan menjadi kekuatan baru dalam menggerakkan potensi pemuda di lingkungan Sitamiang Baru maupun disekitar lingkungan lainnya agar lebih peduli terhadap warisan leluhur.

Lebih lanjut, Suhemi bersama rekan-rekan pengurus NNB lainnya turut mendoakan agar Krida Manunggal Budaya dapat berkembang dengan pesat. Mereka berharap dampak positif dari kehadiran organisasi ini dapat segera dirasakan secara luas oleh masyarakat, khususnya dalam mempererat tali persaudaraan melalui seni dan budaya. Harapan besar disematkan agar organisasi ini mampu menjadi jembatan lintas generasi yang menghubungkan nilai-nilai lama dengan kreativitas masa kini.

Mendengar dukungan tersebut, Ketua DPD Krida Manunggal Budaya Padangsidimpuan, Wahyu Diyono, mengaku sangat bangga dan optimis. Ia menilai dukungan dari unsur pemuda seperti NNB adalah energi utama dalam menjalankan roda organisasi.

Baginya, tanpa keterlibatan aktif Naposo Nauli Bulung, upaya pelestarian budaya akan kehilangan akselerasinya di tingkat akar rumput.

"Kami sangat senang dan berterima kasih atas pernyataan sikap dari rekan-rekan NNB Sitamiang Baru. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, tapi awal dari kerja sama nyata untuk menjaga kekayaan budaya kita agar tetap eksis dan bermanfaat bagi masyarakat banyak," ungkap Wahyu. Ia juga menambahkan bahwa ke depan, Krida Manunggal Budaya berkomitmen untuk terus membuka ruang diskusi bagi para pemuda agar bakat dan minat mereka di bidang seni dapat terfasilitasi dengan profesional.

Pertemuan tersebut ditutup dengan diskusi santai mengenai rencana kolaborasi kegiatan di masa mendatang, termasuk potensi penyelenggaraan festival seni tingkat lingkungan hingga aksi sosial kemasyarakatan. Hal ini mencerminkan kedekatan emosional yang kuat antara kedua belah pihak dalam membangun daerah melalui pelestarian adat dan budaya, sekaligus menegaskan bahwa Padangsidimpuan tetap menjadi kota yang teguh menjaga identitas kulturalnya di bawah semangat gotong royong.


DPD KMB (KRIDA MANUNGGAL BUDAYA) SUMUT KOTA PADANGSIDIMPUAN 

11/04/2026

Mengenal Tari Piring Populer Minangkabau Sumatera Barat


Mengenal Tari Piring Populer Minangkabau Sumatera Barat


Minangkabau -

Jika kamu mendengar nama Provinsi Sumatera Barat, apa hal pertama yang akan kamu pikirkan atau kamu ingat? Apakah itu Rumah Gadang, rumah tradisional dari Sumatera Barat? Atau justru rendang, makanan tradisional, khas, dan populer dari provinsi Sumatera Barat?

Apabila membahas tentang kesenian tradisional atau kesenian daerah, Sumatera Barat sebenarnya memiliki kesenian yang banyak dan penuh akan makna. Namun, ada satu kesenian daerah yang paling dikenal oleh masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah yang berada di ujung pulang Sumatera itu. Dia adalah kesenian dari cabang seni tari, tari piring.

Sejarah tari piring sangat panjang dan memiliki arti yang mendalam bagi masyarakat Sumatera Barat. Tarian tradisional yang berasal dari Solok, Sumatera Barat ini menjadi salah satu identitas provinsi yang membanggakan. Sebab, pertunjukan tari ini kerap kali menjadi daya tarik daerah sebagai ajang untuk promosi pariwisata dan kebudayaan Indonesia.

Provinsi yang terkenal dengan kekayaan rempah-rempah pada kulinernya ini, menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki tingkat keragaman budaya yang sangat tinggi dibandingkan dengan daerah lain. Hal tersebut tercermin dalam beberapa hal, misalnya bahasa daerah, rumah adat, hingga tarian tradisional dan tarian adatnya.

Menjadi suatu representasi Sumatera Barat dari sekian banyaknya tarian daerah yang ada, tari piring menjadi kesenian yang sangat populer dan diminati oleh masyarakat Indonesia secara luas. Gerakan dan properti yang digunakan dalam tarian ini juga sangat khas, sehingga tak heran jika hal ini mengundang perhatian dari berbagai lapisan masyarakat, dari lokal hingga internasional.

Disebutkan, sejarah tari piring dimulai ketika Huriah Adam mempopulerkan tarian tradisional ini. Karena keunikan dan kesuksesannya menarik penonton, saat ini tari piring pun sering kali dipertunjukkan dalam acara penyambutan tamu kehormatan atau pembukaan upacara adat daerah. Bersama dengan tarian dari provinsi lain, seperti tari jaipong, tari saman, dan tari pendet, tari piring ini kerap mewakili Indonesia dalam ajang promosi pariwisata dan budaya nasional.

Tari piring sejatinya adalah sebuah tarian tradisional dari Minangkabau yang menampilkan atraksi penari saat bergerak dan menari dengan menggunakan atribut piring. Kemudian, para penari tersebut akan mulai mengayunkan piring yang berada di tangannya mengikuti pola gerakan yang cepat dan teratur.

Lantas, bagaimana, sih, sebenarnya sejarah tari piring? Bagaimana ceritanya tari piring ini dapat terbentuk, dan apa ciri khas, gerakan, dan pola lantainya? Penasaran? Untuk menjawabnya, yuk, simak informasi di bawah ini!

Pada zaman dahulu, sekitar pada abad ke-12 masehi, masyarakat Minang kala itu masih menyembah Dewa sebagai kepercayaannya. Mereka sangat percaya jika Dewa lah yang sudah memberikan masyarakat hasil panen yang melimpah ruah dan telah melindungi mereka dari segala macam mara bahaya.

Oleh sebab itu, masyarakat pun memulai tradisi memberikan persembahan kepada Dewa dengan memberikan hasil panennya. Persembahan tersebut kemudian ditaruh di atas piring dan diantarkan oleh para gadis yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Gadis-gadis itu akan mengenakan pakaian adat yang bagus dan berperilaku lemah lembut untuk menghadap Dewa.

Setelah itu, sesaji yang telah dipersiapkan untuk Dewa pun dibawa sambil piringnya digerakkan meliuk-liuk. Hal ini dilakukan dengan tujuan sebagai ajang unjuk kemampuan yang dimiliki setiap gadis. Dari peristiwa 800 tahun lalu inilah yang disinyalir sebagai sebagai awal mula terciptanya tari piring atau sejarah tari piring.

Seiring berjalannya waktu, tarian piring ini pun semakin berkembang. Bahkan, perkembangannya menjadi semakin pesat pada zaman pemerintahan kerajaan Sriwijaya. Pada saat itu, tari piring mulai dikenal oleh daerah lain dan menjadi tarian yang populer di seluruh wilayah Sumatera Barat.




DPD KMB (Krida Manunggal Budaya) SUMUT PADANGSIDIMPUAN 



Selasa, 07 April 2026

Tarian Tradisional Melayu yang Terkenal


Tarian Tradisional Melayu yang Terkenal

Riau-

Tanjungpinang merupakan ibukota dari provinsi Kepulauan Riau ini masih menganut melayu yang kental. Ditinggalkan beragam kekayaan budaya yang beraneka ragam seperti, musik, sastra dan juga tari-tarian, karena itulah kita akan membahas salah satu peninggalan budaya tari yang telah turun-temurun diajarkan hingga sekarang. Berikut tarian yang terkenal di daerah Tanjungpinang:

Tari Makyong

Tari Makyong merupakan sebuah pertunjukkan khas Melayu, Makyong hanya sebuah kenangan atau cerita tentang teater yang sangat terkenal, bisa juga dibilang dramatari.

Makyong sendiri diperkirakan telah ada di Riau hampir seabad yang lalu, biasanya pementasan Makyong diselenggarakan setelah memanen padi. Tarian Makyong dipentaskan oleh penari-penari bertopeng dan diiringi alat musik seperti gendang, rebab dan tetawak.

Tari Zapin

Dahulu Tari Zapin ditarikan di atas tikar madani dan tikar tersebut tidak boleh bergoyang ataupun bergeser sedikitpun saat menarikan Tarian Zapin. Dan yang meragakannya adalah lelaki saja, namun karena perkembangan jaman sekarang tarian ini sudah di peragakan oleh wanita dan lelaki.

Sedangkan untuk kostumnya, penari lelaki mengenakan baju kurung cekak musang dan seluar, songket, plekat, kopiah yang ditambahkan bros.

Sementara penari wanita menggenakan baju kurung, kain songket, labuh, kain samping, selendang tudung manto, kembang goyang, anting-anting, kalung, serta riasan sanggul lipat pandan dan conget.

Tarian ini juga banyak dipengaruhi oleh budaya Arab dan sarat akan tata nilai, tarian ini mempertontonkan gerakan kaki cepat yang mengikuti pukulan gendang.

Tari Joged Tambak

Gerak dari tarian Jogged Lambak ini cendrung lemah gemulai sedangkan lagu-lagu yang ditarikan adalah lagu atau irama joget seperti serampang laut, tanjung katung, dan anak kala. Alat musik yang digunakan antara lain gendang, tetawak dan gong.

Tari Tandak

Ciri khas tarian ini adalah saling berbalas pantun antara kelompok pria dan wanita, biasanya lagu pantun tersebut berisikan hal yang ada di bumi atau tentang kehidupan sehari-hari manusia.

Tari Tandak ini dikenal dengan tari pergaulan yang sangat digemari di daerah riau, tari ini gabungan antara seni tari dan sastra.
Biasanya tarian ini dipentaskan oleh laki-laki dan perempuan di malam hari, tari tandak menjadi ajang silaturahmi antara pemuda-pemudi dan banyak juga pasangan suami istri yang bertemu di pementasan Tari Tandak.

Tari Tandak melambangkan ikatan-ikatan yang terjalin antara teman yang berlain kampung serta menciptakan rasa aman antar kampung.



DPD KMB SUMUT PADANGSIDIMPUAN 

Sabtu, 04 April 2026

Seni Jaran Kepang Turonggo Srikandi Putro: Penjaga Nyala Budaya di Barumun Selatan Sibuhuan

Seni Jaran Kepang Turonggo Srikandi Putro: Penjaga Nyala Budaya di Barumun Selatan Sibuhuan


SIDOMULYO, PADANG LAWAS – Di tengah gempuran modernisasi dan arus digitalisasi yang kian kencang, semangat pelestarian seni tradisi justru menunjukkan taringnya di pelosok Kabupaten Padang Lawas.

Kelompok Seni Jaran Kepang Turonggo Srikandi Putro yang berbasis di Desa Sidomulyo, Kecamatan Barumun Selatan, kini menjadi buah bibir berkat dedikasi mereka yang tak surut dalam menjaga warisan leluhur.

Upaya kolektif masyarakat Desa Sidomulyo ini dinilai patut diacungi jempol. Kelompok ini bukan sekadar wadah hiburan, melainkan benteng pertahanan identitas budaya yang berhasil menyatukan berbagai lapisan generasi, mulai dari orang tua hingga pemuda setempat.

Dedikasi Tanpa Batas di Desa Sidomulyo

Kegiatan latihan rutin yang digelar di pelataran desa menjadi bukti nyata bahwa seni Jaran Kepang masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dentuman gong, saron, dan kendang yang mengiringi gerak ritmis para penari kuda lumping menciptakan atmosfer magis yang selalu berhasil menyedot perhatian warga.

Tokoh penggiat seni di desa tersebut Lek Edi menyatakan bahwa menjaga keberlangsungan Turonggo Srikandi Putro adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah. "Kami tidak ingin kesenian ini hanya menjadi cerita di buku sejarah. Kami ingin anak-anak di Barumun Selatan bangga dengan akar budayanya sendiri," ujar Edi salah satu pengurus kelompok tersebut.

Harmonisasi Budaya di Tanah Padang Lawas

Kehadiran Jaran Kepang di wilayah Barumun Selatan juga menjadi simbol harmonisasi budaya yang indah. Di tengah keragaman masyarakat, seni ini mampu berdiri tegak sebagai sarana pemersatu. Upaya pelestarian ini mencakup beberapa aspek krusial:

1. Melibatkan remaja desa untuk belajar teknik tari dan musik tradisi agar estafet kesenian tidak terputus.

2. Aktif tampil dalam acara hajatan warga maupun perayaan hari besar nasional, yang secara tidak langsung mengedukasi masyarakat luas tentang keindahan seni Jaran Kepang.

Apresiasi dan Harapan ke Depan

Banyak pihak menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Kelompok Turonggo Srikandi Putro di Desa Sidomulyo adalah teladan bagi desa-desa lain di Padang Lawas.

Keberhasilan mereka melestarikan seni budaya di tingkat lokal diharapkan mendapat perhatian lebih luas, baik dari pemerintah daerah maupun pemerhati budaya.


Dukungan berupa fasilitas maupun ruang pementasan yang lebih representatif sangat dinantikan agar api semangat para seniman ini tetap menyala. Dengan konsistensi yang ditunjukkan sejauh ini, Desa Sidomulyo telah membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk menjadi pusat pelestarian budaya yang membanggakan di Sumatera Utara.



DPD Krida Manunggal Budaya Padangsidimpuan 05/04/2026

Seni Jaran Kepang: Nilai Tradisi yang Tetap ‘Bernyawa’ di Tangan Generasi Muda Pasaman Barat

Seni Jaran Kepang: Nilai Tradisi yang Tetap ‘Bernyawa’ di Tangan Generasi Muda Pasaman Barat


Pasaman Barat– 

Di tengah gempuran tren digital dan budaya pop global, sebuah pemandangan kontras namun harmoni terlihat di pelosok Pasaman Barat. Suara pecut yang menggelegar dan ritme gamelan yang statis bukan lagi sekadar hiburan pengisi waktu luang bagi warga sepuh, melainkan identitas yang kian digandrungi oleh generasi muda melalui seni Jaran Kepang Pegon.

Fenomena ini membuktikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam seni tradisional ini masih sangat relevan dengan dinamika kehidupan pemuda masa kini.

Lebih dari Sekadar Tarian Kuda Lumping

Bagi para pemuda di Pasaman Barat, Jaran Kepang Pegon bukan hanya soal atraksi fisik atau aspek magis. 

Ada nilai-nilai fundamental yang mereka serap selama proses latihan hingga pementasan:

Kedisiplinan dan Etos Kerja: Gerakan Jaran Kepang Pegon yang cenderung lebih gagah dan terukur menuntut ketahanan fisik serta disiplin tinggi.


Solidaritas Kolektif: Pertunjukan ini mustahil berjalan tanpa harmonisasi antara penari, penabuh musik, dan pawang. Ini menjadi sekolah informal bagi pemuda untuk belajar bekerja dalam tim.

Keteguhan Karakter: Simbol "prajurit berkuda" dalam tarian ini mengajarkan filosofi pantang menyerah dalam menghadapi tantangan hidup modern.

Wajah Baru Jaran Kepang Pegon

Salah satu penggerak seni di Pasaman Barat Bapak Wardi mengungkapkan bahwa antusiasme remaja saat ini justru meningkat karena mereka melihat Jaran Kepang sebagai medium ekspresi diri yang unik.

"Dulu orang anggap ini kuno. Sekarang, anak-anak muda bangga pakai kostum Pegon yang gagah. Mereka merasa punya akar sejarah yang kuat di tanah rantau ini," ujar Wardi salah seorang pengelola paguyuban seni setempat.

Kehadiran media sosial juga turut mengubah cara generasi muda melestarikan tradisi ini. Dokumentasi pementasan yang estetik di platform digital membuat Jaran Kepang Pegon naik kelas dan semakin dikenal luas, sekaligus mematahkan stigma bahwa budaya lokal itu ketinggalan zaman.

Menjaga Identitas di Era Global

Relevansi Jaran Kepang di Pasaman Barat menjadi bukti bahwa tradisi bisa bertahan jika diberikan ruang bagi kaum muda untuk berinovasi tanpa menghilangkan pakem aslinya. Nilai spiritualitas dan penghormatan kepada leluhur tetap terjaga, namun dibungkus dengan energi muda yang penuh semangat.

Dengan terus lestarinya Jaran Kepang Pegon, generasi muda Pasaman Barat tidak hanya sekadar menari, tetapi juga sedang merawat benteng budaya dari pengikisan identitas di era modern.



DPD KMB SUMUT PADANGSIDIMPUAN 04/04/26