Random Posts

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 09 Juni 2026

Lebih dari Sekadar Pesta Ulang Tahun, Inilah Bukti Kekuatan Budaya dan Empati di Padangsidimpuan

Lebih dari Sekadar Pesta Ulang Tahun, Inilah Bukti Kekuatan Budaya dan Empati di Padangsidimpuan


PADANGSIDIMPUAN – Suasana di Kelurahan Batunadua Jae, Kota Padangsidimpuan, mendadak meriah dan penuh warna pada Minggu (7/6/2026). Ratusan masyarakat, mulai dari generasi muda hingga para lansia, tumpah ruah memadati lokasi perhelatan untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisional Jaran Kepang yang memukau.

Acara yang digelar bertepatan dengan momen istimewa hari ulang tahun putra dari Bapak Hutabarat ini, berhasil menjadi magnet bagi warga sekitar. Lebih dari sekadar perayaan syukur, kegiatan ini menjadi ajang pelestarian budaya yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam harmoni yang indah.

Kebhinekaan dalam Irama dan Gerak

Pertunjukan Jaran Kepang yang fenomenal ini semakin semarak dengan kehadiran sejumlah tokoh legendaris serta maestro kesenian Jawa. Kehadiran mereka memberikan suntikan energi dan kualitas artistik yang tinggi, membuat setiap dentuman kendang dan lengkingan musik pengiring gamelan mampu menghipnotis para penonton yang hadir.

Kemeriahan ini juga diperkuat dengan partisipasi aktif dari berbagai sanggar kesenian ternama, di antaranya:

Pengurus DPD Krida Manunggal Budaya (KMB) Padangsidimpuan
Sanggar Langen Budi Utomo dari Bakaran Batu

Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan

Serta perwakilan dari berbagai sanggar seni di wilayah Padangsidimpuan.

Kehadiran para pegiat seni ini menegaskan bahwa nilai-nilai kebhinekaan tetap terjaga dengan kokoh melalui kesenian. Meski dikemas secara sederhana, pertunjukan ini sukses melahirkan semangat kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat Batunadua Jae.

Pertunjukan ini berlangsung di tanggal yang sarat makna, yakni 7 Juni 2026, yang bertepatan dengan dua peringatan penting berskala global: Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) dan Hari Peduli Sedunia (World Caring Day).

Momen kebersamaan ini pun seolah menjadi manifestasi nyata dari nilai-nilai kedua peringatan tersebut. Sesuai dengan tujuan Hari Keamanan Pangan Sedunia yang dicanangkan PBB, acara ini menjadi ajang bagi warga untuk berbagi hidangan yang aman dan sehat, sekaligus mempererat hubungan sosial sesuai dengan semangat Hari Peduli Sedunia yang menyoroti kekuatan empati dan kasih sayang.

Melalui aksi nyata dan empati yang terjalin dalam acara tersebut, pesan tentang pentingnya koneksi antar sesama untuk membawa perubahan positif terasa semakin relevan. Perayaan ini membuktikan bahwa dengan kepedulian dan pelestarian budaya, sebuah komunitas dapat terus tumbuh harmonis di tengah keberagaman.

Kegiatan pun diakhiri dengan suasana kekeluargaan yang kental, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh hadirin yang larut dalam kegembiraan kebudayaan dan persaudaraan.

Rabu, 03 Juni 2026

Merawat Tradisi, Memperkuat Identitas: Kolaborasi Masyarakat dan Seniman dalam Pelestarian Seni Budaya

Merawat Tradisi, Memperkuat Identitas: Kolaborasi Masyarakat dan Seniman dalam Pelestarian Seni Budaya


SIDAKKAL Padangsidimpuan– Semangat melestarikan warisan leluhur tampak begitu hidup di Kelurahan Sidakkal. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, kolaborasi antara Sanggar Langen Budi Utomo, Sanggar Tri Laras, dan organisasi Paguyuban DPD Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan berhasil mencuri perhatian publik. Kehadiran seni tari Jawa, seni Jaran Kepang, dan tabuhan Seni Musik Gamelan yang autentik menjadi bukti nyata bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.


Momentum ini bermula dari inisiatif seorang masyarakat bernama Hendry, yang melibatkan kesenian tradisional dalam acara syukuran putrinya di Sidakkal. Bagi Hendry, langkah ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk apresiasi terhadap warisan yang telah ada secara turun-temurun.


"Kesenian budaya ini adalah tontonan yang sudah ada sejak zaman dahulu hingga sekarang. Sudah sepatutnya kita menjaga keberadaannya, salah satunya dengan konsisten melibatkan kesenian dalam berbagai perhelatan masyarakat," ujar Hendry di sela-sela acara.

Apriyadi Syahputra, pengurus Sanggar Langen Budi Utomo, menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan tersebut. Menurutnya, partisipasi masyarakat seperti yang dilakukan Hendry merupakan napas utama bagi keberlangsungan sanggar.


"Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Hendry dan masyarakat yang telah memberikan ruang bagi kami untuk tampil. Dukungan nyata dari masyarakat adalah bahan bakar bagi para seniman untuk terus berkarya dan menjaga marwah seni tari Jawa, seni Jaran Kepang, dan seni musik gamelan," ungkap Apriyadi.


Pertunjukan seni yang berlangsung menghibur ini juga terasa sangat istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni. Wahyu Diyono, S.Pd., Gr., selaku Pengurus Utama Organisasi Paguyuban Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan yang juga Ketua Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan, menilai antusiasme masyarakat yang hadir sangat luar biasa. 
Ia menyampaikan bahwa kemampuan acara ini akan menjadi tolok ukur bagi organisasi dalam merumuskan program-program kebudayaan yang lebih berkelanjutan di masa depan. 01/06/2026

"Melihat antusiasme warga yang begitu semangat ramai menyaksikan penampilan hari ini ada yang duduk bahkan tak sedikit yang berdiri penuh dengan semangat, kami semakin yakin bahwa budaya adalah pemersatu bangsa. Momentum 1 Juni 2026 Hari Kelahiran Pancasila ini menjadi refleksi bagi kita di paguyuban untuk terus merumuskan acara-acara yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berkelanjutan dalam menjaga nilai-nilai luhur budaya kita," tutup Wahyu Diyono.


Keberhasilan dan kemampuan kolaborasi ini menjadi inspirasi bagi generasi bahwa pelestarian budaya tradisional tidak akan pernah mati selama masyarakatnya masih memegang teguh komitmen untuk menjaga, mendukung, dan menampilkan kearifan lokal dalam setiap kesempatan.


Senimantul

Merawat Tradisi, Memperkuat Identitas: Kolaborasi Masyarakat dan Seniman dalam Pelestarian Seni Budaya