Random Posts

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 29 Mei 2026

Merajut Persaudaraan Melalui Pertunjukan Seni Tradisi

Merajut Persaudaraan Melalui Pertunjukan Seni Tradisi

PADANGSIDIMPUAN – Keberagaman latar belakang di Kota Padangsidimpuan kembali dibuktikan sebagai kekuatan yang mempererat tali persaudaraan. Jum'at Sore, pertunjukan seni kolaboratif yang mempertemukan Sanggar Seni Langen Budi Utomo dan Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan di Lingkungan IV, Kelurahan Sitamiang Baru, mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya dalam satu lokasi harmoni, Jumat (29/05/2026).

Pertunjukan yang menampilkan seni Tari, Seni Jaran Kepang dan Seni Musik Gamelan hari itu, menjadi simbol nyata bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu melintasi sekat-sekat latar belakang etnis. Maestro dan pemain senior dari berbagai latar belakang budaya bahu-membahu menyajikan pertunjukan yang memukau, menunjukkan bahwa kekayaan tradisi Nusantara adalah milik bersama.
Pertunjukan tadi mendapat dukungan penuh dari tokoh kepemudaan setempat, Bapak Naza Siregar. Baginya, kegiatan ini adalah langkah nyata dalam merawat kebinekaan di lingkungan masyarakat.

"Seni tidak mengenal batasan etnis. Hari ini kita melihat bagaimana masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul, menikmati, dan bangga akan warisan budaya yang sama. Kehadiran saya di sini adalah bentuk dukungan terhadap semangat seni budaya yang terbangun. Kita ingin membuktikan bahwa di Padangsidimpuan, keragaman adalah kekayaan yang harus kita rawat bersama melalui giat budaya seperti ini," ujar Naza Siregar di sela-sela acara.

Dukungan serupa ditegaskan oleh DPD Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumut Padangsidimpuan. Organisasi Paguyuban ini terus berkomitmen menjadi wadah bagi seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi tanpa memandang perbedaan latar belakang etnis demi satu tujuan yaitu pelestarian budaya.

Tanggapan salah satu tokoh masyarakat Yaitu Bapak Madan menyambut hangat inisiatif kolaborasi lintas keberagaman ini. Ia menilai bahwa kegiatan semacam ini sangat krusial dalam menjaga kondusivitas dan kerukunan warga.


"Kami sangat mengapresiasi kolaborasi latar belakang majemuk yang diinisiasi oleh para seniman dan Bapak Naza Siregar. Di Sitamiang Baru, kita selalu mengedepankan semangat kekeluargaan. Seni tradisional terbukti menjadi medium yang paling efektif untuk menyatukan perbedaan menjadi satu harmoni yang indah. Kami berkomitmen untuk terus mendukung ruang-ruang dialog budaya seperti ini," ungkap Madan Tokoh masyarakat.

Para pegiat seni dan masyarakat berharap sinergi ini mendapatkan perhatian lebih serius dari pemerintah daerah. Mereka berharap agar ruang-ruang apresiasi budaya diangkat menjadi salah satu program daerah yang inklusif bagi seluruh kelompok etnis. "tambahnya".

Di sudut lain Krida Manunggal Budaya menyatakan.
"Kita berharap pemerintah dapat memfasilitasi lebih banyak lagi acara kolaboratif lintas keberagaman seperti ini. Jika didukung dengan serius, seni budaya ini bukan hanya sekadar hiburan, tapi bisa menjadi salah satu program unggulan daerah yang memperkuat jati diri Padangsidimpuan sebagai kota yang damai, toleran, dan berbudaya, apalagi undang undang dan juknis dari Kementerian Kebudayaan sudah ada," ujar salah satu pengurus utama DPD KMB Sumut Padangsidimpuan Wahyu.

Pertunjukan di Sitamiang Baru sore tadi ditutup dengan kehangatan. Keberlangsungan kolaborasi lintas keberagaman ini menjadi bukti bahwa dengan semangat kebersamaan, setiap tantangan zaman dapat dihadapi. Harapannya, semangat yang sama dapat menular ke seluruh penjuru Padangsidimpuan, menjadikan keberagaman sebagai modal utama dalam membangun daerah yang lebih maju dan bersatu.


Padangsidimpuan
Senimantul KMB
Maju Seninya Mantap Betul Senimannya
Padangsidimpuan, 29 Mei 2026

Rabu, 13 Mei 2026

Kunjungan Sinergi Kelurahan Sitamiang & Kelurahan Sitamiang Baru bersama Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan dalam penanganan Masalah Sosial & Kesehatan Masyarakat


Kunjungan Sinergi Kelurahan Sitamiang & Kelurahan Sitamiang Baru bersama Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan dalam penanganan Masalah Sosial & kesehatan Masyarakat


PADANGSIDIMPUAN – Dalam upaya menjamin ketentraman dan kenyamanan lingkungan bermasyarakat, Pemerintah Kelurahan Sitamiang Baru dan Kelurahan Sitamiang menggelar rapat koordinasi bersama tim medis dari Puskesmas Padangmatinggi, Rabu (13/05/2026).


Pertemuan ini difokuskan pada penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dinilai mulai mengganggu ketertiban bertetangga di wilayah tanggal sitamiang tersebut.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Lurah Sitamiang, Muhammad Holit Harahap, dan Lurah Sitamiang Baru, Irwansyah Efendi Harahap. Keduanya menegaskan bahwa langkah kolaboratif ini diambil menyusul adanya laporan masyarakat terkait rasa tidak nyaman dan kekhawatiran akan gangguan keamanan di lingkungan pemukiman.


“Kami mengutamakan pendekatan yang humanis namun tetap tegas dalam memastikan kenyamanan warga. Koordinasi dengan pihak kesehatan sangat krusial agar penanganan dilakukan sesuai prosedur medis dan aspek kemanusiaan,” ujar Muhammad Holit Harahap di sela kegiatan.

Dari pihak Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan, hadir perwakilan petugas dari Puskesmas Padangmatinggi, yakni Mariasi dan Muhammad Ihkwan Harahap.

Tim medis memberikan arahan mengenai langkah-langkah penanganan pasien gangguan jiwa, mulai dari pemantauan rutin hingga prosedur rujukan jika diperlukan tindakan medis lebih lanjut di rumah sakit jiwa.

Turut hadir dalam peninjauan lapangan, Kepala Lingkungan Sitamiang Baru (Kepling) 4, Parmonangan Pane, yang bertugas memetakan titik-titik kerawanan di lingkungan sekitar. Kehadiran unsur kewilayahan ini bertujuan untuk memastikan warga tetap tenang dan tidak melakukan tindakan main hakim sendiri terhadap penyandang disabilitas mental tersebut.

Melalui koordinasi ini, diharapkan tercipta solusi jangka panjang yang mampu menyeimbangkan hak-hak pasien untuk mendapatkan pengobatan dengan hak masyarakat luas untuk hidup dalam suasana yang aman, tentram, dan harmonis.

Di sisi lain, pihak keluarga dari warga yang bersangkutan menyampaikan rasa terima kasih dan harapan besar atas inisiatif koordinasi yang dilakukan oleh pihak Kelurahan dan Puskesmas. Mewakili pihak keluarga, mereka berharap agar penanganan ini tidak hanya berhenti pada koordinasi administratif, namun juga bantuan nyata dalam proses pemulihan.

​"Kami sangat berharap bantuan dari pihak Puskesmas untuk bimbingan pengobatan yang rutin. Sebagai keluarga, kami ingin anggota keluarga kami bisa sembuh dan kembali berinteraksi dengan normal," ungkap perwakilan keluarga.

​Selain bantuan medis, pihak keluarga juga menaruh harapan besar kepada masyarakat sekitar:

  • Penerimaan Sosial: Keluarga berharap tetangga dan masyarakat tidak memberikan stigma negatif atau menjauhi mereka, melainkan memberikan dukungan moral.
  • Keamanan Bersama: Keluarga mendukung penuh langkah pemerintah untuk memastikan lingkungan tetap aman, namun memohon agar penanganan dilakukan secara sabar dan tanpa kekerasan.
  • Pendampingan Berkelanjutan: Berharap adanya edukasi bagi keluarga mengenai cara menangani kekambuhan di rumah agar tidak sampai mengganggu kenyamanan warga lainnya.

​"Kami tidak ingin keberadaan keluarga kami menjadi beban atau ketakutan bagi orang lain. Dengan adanya perhatian dari Pak Lurah dan tim kesehatan, kami merasa tidak sendirian dalam menghadapi ujian ini," imbuhnya.







DPD KMB SUMUT
Lokasi: Padangsidimpuan, Sumatera Utara

Minggu, 10 Mei 2026

Bangun Sinergi Budaya, DPD KMB Padangsidimpuan Terapkan Pendekatan Holistik di Sitamiang Baru


Bangun Sinergi Budaya, DPD KMB Padangsidimpuan Terapkan Pendekatan Holistik di Sitamiang Baru


PADANGSIDIMPUAN– Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Paguyuban Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumatera Utara wilayah Padangsidimpuan terus memperkuat akar organisasinya melalui kolaborasi strategis dengan pemerintah tingkat kelurahan. Langkah ini diawali dengan kunjungan silaturahmi sekaligus koordinasi administratif ke Kantor Kelurahan Sitamiang Baru. Senin 11 Mei 2026


Kehadiran pengurus KMB disambut hangat oleh Lurah Sitamiang Baru, Irwansyah Efendi Harahap. Dalam pertemuan tersebut, beliau menyampaikan apresiasi dan harapan besarnya agar KMB dapat terus berkembang menjadi organisasi yang sukses, maju, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.


Sebagai bentuk dukungan konkret dan kepastian hukum organisasi, pihak pemerintah Kelurahan Sitamiang Baru secara resmi menyerahkan Surat Keterangan Domisili bagi Krida Manunggal Budaya Sumatera Utara Padangsidimpuan. Dokumen ini menjadi landasan penting bagi operasional sanggar dan aktivitas kebudayaan KMB di suatu kawasan wilayah.


Lurah Irwansyah Efendi Harahap juga berkomitmen melibatkan KMB dalam agenda pembangunan daerah melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tahun 2027 dan tahun-tahun mendatang. Melalui sinergi ini, diharapkan dapat membuka akses pemanfaatan sarana serta fasilitas pemerintah maupun hibah, dengan target utama membantu pemenuhan kebutuhan perlengkapan kesenian, seperti kostum tari dan alat musik tradisional yang representatif.

Wahyu Diyono, S.Pd., Gr., selaku pengurus utama DPD KMB Sumut wilayah Padangsidimpuan, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas sambutan terbuka dan kecepatan administratif dari pihak kelurahan serta menyerahkan salinan struktur kepengurusan organisasi Sanggar Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan. Beliau menegaskan bahwa KMB mengusung konsep semangat "Maju Seninya, Mantap Betul Senimannya".

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Lurah beserta Sekretaris Kelurahan yang telah mendukung gagasan dan visi-misi KMB. Kami juga terus beradaptasi dengan teknologi, di mana seluruh informasi mengenai aktivitas seni dan budaya kami dapat diakses masyarakat melalui situs website senimantul.blogspot.com, ungkap Wahyu".


Kunjungan ini merupakan bagian dari pendekatan holistik KMB untuk memastikan bahwa pengembangan seni tidak hanya berhenti pada aspek pertunjukan, tetapi juga menyentuh aspek legalitas, digitalisasi informasi, dan pemberdayaan fasilitas yang didukung oleh pemerintah.

Sinergi antara DPD KMB Padangsidimpuan dan Kelurahan Sitamiang Baru ini diharapkan menjadi model percontohan bagi penggiat seni lainnya dalam membangun kemitraan strategis demi keberlangsungan warisan budaya di tingkat akar rumput.


#DPD_KMB_SUMUT_PADANGSIDIMPUAN

Senin, 13 April 2026

DPP & DPW Krida Manunggal Budaya Sumut Konsolidasi di Padangsidimpuan

DPP & DPW Krida Manunggal Budaya Sumut Konsolidasi di Padangsidimpuan


PADANGSIDIMPUAN – Semangat pelestarian seni budaya di Sumatera Utara kembali bergelora. Jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumatera Utara resmi melakukan kunjungan kerja ke Kota Padangsidimpuan. Pertemuan yang berlangsung hangat ini mengusung misi besar: "Maju Seninya, Mantap Betul Senimannya."

Meskipun dikemas dalam agenda yang sederhana, pertemuan ini berjalan dengan sangat cekatan. Pembahasan dilakukan secara terorganisir, membedah langkah-langkah strategis untuk mencapai cita-cita bersama dalam memajukan ekosistem seni yang berkualitas di Bumi Padangsidimpuan.

Arahan Ketua Umum: Dalam arahannya, Ketua Umum KMB Sumut, AD. Handoko, menekankan pentingnya profesionalisme dalam berorganisasi. Beliau berpesan agar KMB Padangsidimpuan tidak sekadar menjadi wadah berkumpul, namun harus menjadi mesin penggerak kebudayaan yang sistematis.


"Saya berharap KMB Padangsidimpuan terus bergerak dengan mekanisme yang seharusnya. Konsistensi dan ketaatan pada struktur organisasi adalah kunci agar tujuan 'Seni Mantap Betul' ini bisa kita rasakan manfaatnya secara luas," ujar AD. Handoko.

Respons KMB Padangsidimpuan: Menanggapi arahan tersebut, Wahyu beserta rekan-rekan pengurus inti KMB Padangsidimpuan menyatakan kesiapan mereka untuk mengemban amanah organisasi. Wahyu menyampaikan bahwa mereka memilih strategi yang terukur untuk memastikan keberlanjutan program.


Visi Utama: Mewujudkan program Visi & Misi KMB untuk menjadi nyata.

Strategi: Bergerak pelan tapi pasti guna membangun pondasi yang kuat.
Target: Memastikan KMB segera eksis sebagai salah satu garda depan pelestari seni di Padangsidimpuan.

Menuju Senimantul "Seni Mantap Betul"

Kunjungan ini menjadi sinyal positif bagi para seniman lokal. Dengan pembahasan yang terorganisir dan komitmen dari para pengurus, KMB Padangsidimpuan optimis dapat menciptakan pertunjukan budaya yang lebih layak bagi para pelaku seni, sekaligus mengedukasi masyarakat akan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.

Pertemuan ditutup dengan diskusi santai namun berisi, mempertegas sinergi antara pusat dan daerah demi kejayaan seni budaya Sumatera Utara.


DPD KRIDA MANUNGGAL BUDAYA SUMUT PADANGSIDIMPUAN, SABTU 11 April 2026

Terbit 13 April 2026

Jumat, 10 April 2026

Jalin Sinergi, Naposo Nauli Bulung Sitamiang Baru Lingkungan III Sambut Positif DPD Krida Manunggal Budaya

Jalin Sinergi, Naposo Nauli Bulung Sitamiang Baru Lingkungan III Sambut Positif DPD Krida Manunggal Budaya


PADANGSIDIMPUAN – Semangat kolaborasi untuk pelestarian budaya lokal semakin menguat di Kota Padangsidimpuan. Hal ini terlihat dari sambutan hangat yang diberikan oleh organisasi kepemudaan Naposo Nauli Bulung (NNB) Sitamiang Baru Lingkungan III, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, terhadap kehadiran DPD Paguyuban Krida Manunggal Budaya. Pertemuan ini menjadi momentum krusial dalam menyatukan visi antara struktur kepemudaan adat dan organisasi pelestari seni di tingkat daerah.

Dalam pertemuan yang berlangsung dengan suasana akrab dan penuh kekeluargaan, Ketua NNB Sitamiang Baru Lingkungan III, Suhemi, menyatakan apresiasi dan dukungan penuhnya terhadap visi yang diusung oleh Krida Manunggal Budaya. Menurutnya, organisasi ini membawa angin segar bagi pelestarian tradisi di tengah arus modernisasi yang kian kencang menggerus jati diri bangsa.

"Kami melihat organisasi ini memiliki prospek yang sangat baik karena menjadi wadah bagi berbagai talenta budaya daerah. Konsep keragaman budaya setempat yang diusung sangatlah relevan. Kami menyatakan siap membersamai dan bersinergi kapan pun dibutuhkan, baik dalam kegiatan sosial, budaya, maupun pengabdian masyarakat ke depannya," ujar Suhemi. Ia menekankan bahwa sinergi ini akan menjadi kekuatan baru dalam menggerakkan potensi pemuda di lingkungan Sitamiang Baru maupun disekitar lingkungan lainnya agar lebih peduli terhadap warisan leluhur.

Lebih lanjut, Suhemi bersama rekan-rekan pengurus NNB lainnya turut mendoakan agar Krida Manunggal Budaya dapat berkembang dengan pesat. Mereka berharap dampak positif dari kehadiran organisasi ini dapat segera dirasakan secara luas oleh masyarakat, khususnya dalam mempererat tali persaudaraan melalui seni dan budaya. Harapan besar disematkan agar organisasi ini mampu menjadi jembatan lintas generasi yang menghubungkan nilai-nilai lama dengan kreativitas masa kini.

Mendengar dukungan tersebut, Ketua DPD Krida Manunggal Budaya Padangsidimpuan, Wahyu Diyono, mengaku sangat bangga dan optimis. Ia menilai dukungan dari unsur pemuda seperti NNB adalah energi utama dalam menjalankan roda organisasi.

Baginya, tanpa keterlibatan aktif Naposo Nauli Bulung, upaya pelestarian budaya akan kehilangan akselerasinya di tingkat akar rumput.

"Kami sangat senang dan berterima kasih atas pernyataan sikap dari rekan-rekan NNB Sitamiang Baru. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, tapi awal dari kerja sama nyata untuk menjaga kekayaan budaya kita agar tetap eksis dan bermanfaat bagi masyarakat banyak," ungkap Wahyu. Ia juga menambahkan bahwa ke depan, Krida Manunggal Budaya berkomitmen untuk terus membuka ruang diskusi bagi para pemuda agar bakat dan minat mereka di bidang seni dapat terfasilitasi dengan profesional.

Pertemuan tersebut ditutup dengan diskusi santai mengenai rencana kolaborasi kegiatan di masa mendatang, termasuk potensi penyelenggaraan festival seni tingkat lingkungan hingga aksi sosial kemasyarakatan. Hal ini mencerminkan kedekatan emosional yang kuat antara kedua belah pihak dalam membangun daerah melalui pelestarian adat dan budaya, sekaligus menegaskan bahwa Padangsidimpuan tetap menjadi kota yang teguh menjaga identitas kulturalnya di bawah semangat gotong royong.


DPD KMB (KRIDA MANUNGGAL BUDAYA) SUMUT KOTA PADANGSIDIMPUAN 

11/04/2026

Mengenal Tari Piring Populer Minangkabau Sumatera Barat


Mengenal Tari Piring Populer Minangkabau Sumatera Barat


Minangkabau -

Jika kamu mendengar nama Provinsi Sumatera Barat, apa hal pertama yang akan kamu pikirkan atau kamu ingat? Apakah itu Rumah Gadang, rumah tradisional dari Sumatera Barat? Atau justru rendang, makanan tradisional, khas, dan populer dari provinsi Sumatera Barat?

Apabila membahas tentang kesenian tradisional atau kesenian daerah, Sumatera Barat sebenarnya memiliki kesenian yang banyak dan penuh akan makna. Namun, ada satu kesenian daerah yang paling dikenal oleh masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah yang berada di ujung pulang Sumatera itu. Dia adalah kesenian dari cabang seni tari, tari piring.

Sejarah tari piring sangat panjang dan memiliki arti yang mendalam bagi masyarakat Sumatera Barat. Tarian tradisional yang berasal dari Solok, Sumatera Barat ini menjadi salah satu identitas provinsi yang membanggakan. Sebab, pertunjukan tari ini kerap kali menjadi daya tarik daerah sebagai ajang untuk promosi pariwisata dan kebudayaan Indonesia.

Provinsi yang terkenal dengan kekayaan rempah-rempah pada kulinernya ini, menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki tingkat keragaman budaya yang sangat tinggi dibandingkan dengan daerah lain. Hal tersebut tercermin dalam beberapa hal, misalnya bahasa daerah, rumah adat, hingga tarian tradisional dan tarian adatnya.

Menjadi suatu representasi Sumatera Barat dari sekian banyaknya tarian daerah yang ada, tari piring menjadi kesenian yang sangat populer dan diminati oleh masyarakat Indonesia secara luas. Gerakan dan properti yang digunakan dalam tarian ini juga sangat khas, sehingga tak heran jika hal ini mengundang perhatian dari berbagai lapisan masyarakat, dari lokal hingga internasional.

Disebutkan, sejarah tari piring dimulai ketika Huriah Adam mempopulerkan tarian tradisional ini. Karena keunikan dan kesuksesannya menarik penonton, saat ini tari piring pun sering kali dipertunjukkan dalam acara penyambutan tamu kehormatan atau pembukaan upacara adat daerah. Bersama dengan tarian dari provinsi lain, seperti tari jaipong, tari saman, dan tari pendet, tari piring ini kerap mewakili Indonesia dalam ajang promosi pariwisata dan budaya nasional.

Tari piring sejatinya adalah sebuah tarian tradisional dari Minangkabau yang menampilkan atraksi penari saat bergerak dan menari dengan menggunakan atribut piring. Kemudian, para penari tersebut akan mulai mengayunkan piring yang berada di tangannya mengikuti pola gerakan yang cepat dan teratur.

Lantas, bagaimana, sih, sebenarnya sejarah tari piring? Bagaimana ceritanya tari piring ini dapat terbentuk, dan apa ciri khas, gerakan, dan pola lantainya? Penasaran? Untuk menjawabnya, yuk, simak informasi di bawah ini!

Pada zaman dahulu, sekitar pada abad ke-12 masehi, masyarakat Minang kala itu masih menyembah Dewa sebagai kepercayaannya. Mereka sangat percaya jika Dewa lah yang sudah memberikan masyarakat hasil panen yang melimpah ruah dan telah melindungi mereka dari segala macam mara bahaya.

Oleh sebab itu, masyarakat pun memulai tradisi memberikan persembahan kepada Dewa dengan memberikan hasil panennya. Persembahan tersebut kemudian ditaruh di atas piring dan diantarkan oleh para gadis yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Gadis-gadis itu akan mengenakan pakaian adat yang bagus dan berperilaku lemah lembut untuk menghadap Dewa.

Setelah itu, sesaji yang telah dipersiapkan untuk Dewa pun dibawa sambil piringnya digerakkan meliuk-liuk. Hal ini dilakukan dengan tujuan sebagai ajang unjuk kemampuan yang dimiliki setiap gadis. Dari peristiwa 800 tahun lalu inilah yang disinyalir sebagai sebagai awal mula terciptanya tari piring atau sejarah tari piring.

Seiring berjalannya waktu, tarian piring ini pun semakin berkembang. Bahkan, perkembangannya menjadi semakin pesat pada zaman pemerintahan kerajaan Sriwijaya. Pada saat itu, tari piring mulai dikenal oleh daerah lain dan menjadi tarian yang populer di seluruh wilayah Sumatera Barat.




DPD KMB (Krida Manunggal Budaya) SUMUT PADANGSIDIMPUAN 



Selasa, 07 April 2026

Tarian Tradisional Melayu yang Terkenal


Tarian Tradisional Melayu yang Terkenal

Riau-

Tanjungpinang merupakan ibukota dari provinsi Kepulauan Riau ini masih menganut melayu yang kental. Ditinggalkan beragam kekayaan budaya yang beraneka ragam seperti, musik, sastra dan juga tari-tarian, karena itulah kita akan membahas salah satu peninggalan budaya tari yang telah turun-temurun diajarkan hingga sekarang. Berikut tarian yang terkenal di daerah Tanjungpinang:

Tari Makyong

Tari Makyong merupakan sebuah pertunjukkan khas Melayu, Makyong hanya sebuah kenangan atau cerita tentang teater yang sangat terkenal, bisa juga dibilang dramatari.

Makyong sendiri diperkirakan telah ada di Riau hampir seabad yang lalu, biasanya pementasan Makyong diselenggarakan setelah memanen padi. Tarian Makyong dipentaskan oleh penari-penari bertopeng dan diiringi alat musik seperti gendang, rebab dan tetawak.

Tari Zapin

Dahulu Tari Zapin ditarikan di atas tikar madani dan tikar tersebut tidak boleh bergoyang ataupun bergeser sedikitpun saat menarikan Tarian Zapin. Dan yang meragakannya adalah lelaki saja, namun karena perkembangan jaman sekarang tarian ini sudah di peragakan oleh wanita dan lelaki.

Sedangkan untuk kostumnya, penari lelaki mengenakan baju kurung cekak musang dan seluar, songket, plekat, kopiah yang ditambahkan bros.

Sementara penari wanita menggenakan baju kurung, kain songket, labuh, kain samping, selendang tudung manto, kembang goyang, anting-anting, kalung, serta riasan sanggul lipat pandan dan conget.

Tarian ini juga banyak dipengaruhi oleh budaya Arab dan sarat akan tata nilai, tarian ini mempertontonkan gerakan kaki cepat yang mengikuti pukulan gendang.

Tari Joged Tambak

Gerak dari tarian Jogged Lambak ini cendrung lemah gemulai sedangkan lagu-lagu yang ditarikan adalah lagu atau irama joget seperti serampang laut, tanjung katung, dan anak kala. Alat musik yang digunakan antara lain gendang, tetawak dan gong.

Tari Tandak

Ciri khas tarian ini adalah saling berbalas pantun antara kelompok pria dan wanita, biasanya lagu pantun tersebut berisikan hal yang ada di bumi atau tentang kehidupan sehari-hari manusia.

Tari Tandak ini dikenal dengan tari pergaulan yang sangat digemari di daerah riau, tari ini gabungan antara seni tari dan sastra.
Biasanya tarian ini dipentaskan oleh laki-laki dan perempuan di malam hari, tari tandak menjadi ajang silaturahmi antara pemuda-pemudi dan banyak juga pasangan suami istri yang bertemu di pementasan Tari Tandak.

Tari Tandak melambangkan ikatan-ikatan yang terjalin antara teman yang berlain kampung serta menciptakan rasa aman antar kampung.



DPD KMB SUMUT PADANGSIDIMPUAN 

Sabtu, 04 April 2026

Seni Jaran Kepang Turonggo Srikandi Putro: Penjaga Nyala Budaya di Barumun Selatan Sibuhuan

Seni Jaran Kepang Turonggo Srikandi Putro: Penjaga Nyala Budaya di Barumun Selatan Sibuhuan


SIDOMULYO, PADANG LAWAS – Di tengah gempuran modernisasi dan arus digitalisasi yang kian kencang, semangat pelestarian seni tradisi justru menunjukkan taringnya di pelosok Kabupaten Padang Lawas.

Kelompok Seni Jaran Kepang Turonggo Srikandi Putro yang berbasis di Desa Sidomulyo, Kecamatan Barumun Selatan, kini menjadi buah bibir berkat dedikasi mereka yang tak surut dalam menjaga warisan leluhur.

Upaya kolektif masyarakat Desa Sidomulyo ini dinilai patut diacungi jempol. Kelompok ini bukan sekadar wadah hiburan, melainkan benteng pertahanan identitas budaya yang berhasil menyatukan berbagai lapisan generasi, mulai dari orang tua hingga pemuda setempat.

Dedikasi Tanpa Batas di Desa Sidomulyo

Kegiatan latihan rutin yang digelar di pelataran desa menjadi bukti nyata bahwa seni Jaran Kepang masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dentuman gong, saron, dan kendang yang mengiringi gerak ritmis para penari kuda lumping menciptakan atmosfer magis yang selalu berhasil menyedot perhatian warga.

Tokoh penggiat seni di desa tersebut Lek Edi menyatakan bahwa menjaga keberlangsungan Turonggo Srikandi Putro adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah. "Kami tidak ingin kesenian ini hanya menjadi cerita di buku sejarah. Kami ingin anak-anak di Barumun Selatan bangga dengan akar budayanya sendiri," ujar Edi salah satu pengurus kelompok tersebut.

Harmonisasi Budaya di Tanah Padang Lawas

Kehadiran Jaran Kepang di wilayah Barumun Selatan juga menjadi simbol harmonisasi budaya yang indah. Di tengah keragaman masyarakat, seni ini mampu berdiri tegak sebagai sarana pemersatu. Upaya pelestarian ini mencakup beberapa aspek krusial:

1. Melibatkan remaja desa untuk belajar teknik tari dan musik tradisi agar estafet kesenian tidak terputus.

2. Aktif tampil dalam acara hajatan warga maupun perayaan hari besar nasional, yang secara tidak langsung mengedukasi masyarakat luas tentang keindahan seni Jaran Kepang.

Apresiasi dan Harapan ke Depan

Banyak pihak menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Kelompok Turonggo Srikandi Putro di Desa Sidomulyo adalah teladan bagi desa-desa lain di Padang Lawas.

Keberhasilan mereka melestarikan seni budaya di tingkat lokal diharapkan mendapat perhatian lebih luas, baik dari pemerintah daerah maupun pemerhati budaya.


Dukungan berupa fasilitas maupun ruang pementasan yang lebih representatif sangat dinantikan agar api semangat para seniman ini tetap menyala. Dengan konsistensi yang ditunjukkan sejauh ini, Desa Sidomulyo telah membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk menjadi pusat pelestarian budaya yang membanggakan di Sumatera Utara.



DPD Krida Manunggal Budaya Padangsidimpuan 05/04/2026

Seni Jaran Kepang: Nilai Tradisi yang Tetap ‘Bernyawa’ di Tangan Generasi Muda Pasaman Barat

Seni Jaran Kepang: Nilai Tradisi yang Tetap ‘Bernyawa’ di Tangan Generasi Muda Pasaman Barat


Pasaman Barat– 

Di tengah gempuran tren digital dan budaya pop global, sebuah pemandangan kontras namun harmoni terlihat di pelosok Pasaman Barat. Suara pecut yang menggelegar dan ritme gamelan yang statis bukan lagi sekadar hiburan pengisi waktu luang bagi warga sepuh, melainkan identitas yang kian digandrungi oleh generasi muda melalui seni Jaran Kepang Pegon.

Fenomena ini membuktikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam seni tradisional ini masih sangat relevan dengan dinamika kehidupan pemuda masa kini.

Lebih dari Sekadar Tarian Kuda Lumping

Bagi para pemuda di Pasaman Barat, Jaran Kepang Pegon bukan hanya soal atraksi fisik atau aspek magis. 

Ada nilai-nilai fundamental yang mereka serap selama proses latihan hingga pementasan:

Kedisiplinan dan Etos Kerja: Gerakan Jaran Kepang Pegon yang cenderung lebih gagah dan terukur menuntut ketahanan fisik serta disiplin tinggi.


Solidaritas Kolektif: Pertunjukan ini mustahil berjalan tanpa harmonisasi antara penari, penabuh musik, dan pawang. Ini menjadi sekolah informal bagi pemuda untuk belajar bekerja dalam tim.

Keteguhan Karakter: Simbol "prajurit berkuda" dalam tarian ini mengajarkan filosofi pantang menyerah dalam menghadapi tantangan hidup modern.

Wajah Baru Jaran Kepang Pegon

Salah satu penggerak seni di Pasaman Barat Bapak Wardi mengungkapkan bahwa antusiasme remaja saat ini justru meningkat karena mereka melihat Jaran Kepang sebagai medium ekspresi diri yang unik.

"Dulu orang anggap ini kuno. Sekarang, anak-anak muda bangga pakai kostum Pegon yang gagah. Mereka merasa punya akar sejarah yang kuat di tanah rantau ini," ujar Wardi salah seorang pengelola paguyuban seni setempat.

Kehadiran media sosial juga turut mengubah cara generasi muda melestarikan tradisi ini. Dokumentasi pementasan yang estetik di platform digital membuat Jaran Kepang Pegon naik kelas dan semakin dikenal luas, sekaligus mematahkan stigma bahwa budaya lokal itu ketinggalan zaman.

Menjaga Identitas di Era Global

Relevansi Jaran Kepang di Pasaman Barat menjadi bukti bahwa tradisi bisa bertahan jika diberikan ruang bagi kaum muda untuk berinovasi tanpa menghilangkan pakem aslinya. Nilai spiritualitas dan penghormatan kepada leluhur tetap terjaga, namun dibungkus dengan energi muda yang penuh semangat.

Dengan terus lestarinya Jaran Kepang Pegon, generasi muda Pasaman Barat tidak hanya sekadar menari, tetapi juga sedang merawat benteng budaya dari pengikisan identitas di era modern.



DPD KMB SUMUT PADANGSIDIMPUAN 04/04/26

Kamis, 26 Maret 2026

Paguyuban Endang Sewu Batang Toru Siap Bersinergi, Dukung Pembentukan DPD Krida Manunggal Budaya Tapanuli Selatan

Paguyuban Endang Sewu Batang Toru Siap Bersinergi, Dukung Pembentukan DPD Krida Manunggal Budaya Tapanuli Selatan


BATANG TORU, TAPANULI SELATAN – Semangat pelestarian seni dan budaya tradisional di Sumatera Utara terus menguat. Paguyuban Jaran Kepang Endang Sewu Batang Toru, Tapanuli Selatan (Tapsel), menyatakan kesiapannya untuk menjalin kemitraan erat dengan jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumatera Utara.


Langkah strategis ini ditegaskan langsung oleh Bapak Paiman, tokoh sentral sekaligus sesepuh Paguyuban Jaran Kepang Endang Sewu, pada Rabu (25/03/2026). Selain memberikan dukungan penuh bagi eksistensi KMB Sumut—khususnya yang berada di wilayah Padangsidimpuan—Bapak Paiman juga menyatakan kesiapannya menyokong penuh pembentukan kepengurusan DPD KMB untuk wilayah Tapanuli Selatan.

Menyusun Struktur Kepengurusan Baru

Sebagai langkah konkret, bursa kepengurusan untuk DPD KMB Tapsel mulai dipersiapkan. Beberapa nama potensial yang digodok bakal mengisi posisi calon pengurus di antaranya adalah Wisnu beserta rekan-rekan penggiat budaya lainnya. 

Sinergi antara Endang Sewu dan Krida Manunggal Budaya Sumut ini diharapkan mampu menyatukan visi para pelaku seni di daerah tersebut.

"Kami siap menyokong dan lagi berupaya dalam pembentukan struktur DPD Krida Manunggal Budaya Sumut untuk Tapsel. Ini adalah langkah penting agar kita memiliki wadah yang solid dan terorganisir," ujar Bapak Paiman.

Harapan dan Wadah Aspirasi

Melalui pembentukan DPD KMB Tapsel ini, ada beberapa harapan besar yang ingin dicapai oleh para pegiat seni lokal:


Perluasan Jaringan Seni: Membuka akses komunikasi yang lebih luas antar pelaku seni tradisional di tingkat daerah maupun provinsi.


Wadah Aspirasi yang Legal dan Kuat: Menjadi rumah bersama untuk menampung ide, keluhan, dan harapan para seniman di wilayah Tapanuli Selatan dan sekitarnya.


Pelestarian Budaya Lokal: Menjaga agar kesenian tradisional tetap hidup, berkembang, dan diminati oleh generasi muda di tengah gempuran zaman modern.

Dengan adanya organisasi ini, diharapkan bisa menjadi wadah pelestarian budaya yang nyata, sekaligus memacu semangat masyarakat dan generasi muda untuk lebih giat belajar kesenian tradisional.

Digelarnya pertunjukan tradisional ini tidak luput dari peran aktif masyarakat yang bersumbangsih mengundang kesenian Paguyuban Jaran Kepang Endang Sewu dalam acara Halal bihalal. Pertunjukan tersebut berlangsung sangat semarak dan diramaikan oleh kehadiran tokoh masyarakat, para orang tua, hingga anak-anak yang antusias menyaksikan kelestarian budaya lokal.

Dengan adanya kolaborasi ini, ekosistem kesenian tradisional di Tapanuli Selatan diprediksi akan semakin bergairah dan mendapat atensi yang layak dari berbagai pihak.


DPD KRIDA MANUNGGAL BUDAYA SUMUT PADANGSIDIMPUAN 25/03/2026 

Sabtu, 21 Maret 2026

Ratusan Jemaah Masjid Al-Madani Padangsidimpuan Padati Halaman Samping SPBU Sitamiang

Ratusan Jemaah Masjid Al-Madani Padangsidimpuan Padati Halaman Samping SPBU Sitamiang

PADANGSIDIMPUAN – Gema takbir berkumandang memecah kesunyian pagi di kawasan Sitamiang, Sabtu (21/03/2026). Ratusan jemaah Masjid Al-Madani kembali memenuhi halaman terbuka yang terletak tepat di samping SPBU Sitamiang untuk melaksanakan salat Idul Fitri 1447 H.

​Pemandangan ini seolah menjadi pemandangan ikonik tahunan bagi warga setempat. Meski Masjid Al-Madani memiliki bangunan yang representatif, antusiasme warga yang membeludak setiap tahunnya membuat area halaman luas di samping pom bensin tersebut menjadi pilihan utama sebagai lokasi salat Id.


Tradisi yang Tak Lekang oleh Waktu

​Sejak dulu hingga sekarang, lokasi ini telah bertransformasi menjadi titik temu bagi warga dari berbagai lingkungan di sekitar Sitamiang. Penggunaan halaman di samping SPBU ini bukan sekadar urusan daya tampung, melainkan sudah menjadi bagian dari sejarah dan tradisi masyarakat Al-Madani dalam merayakan kemenangan.

​"Kami sudah terbiasa salat di sini sejak bertahun-tahun lalu. Ada rasa kebersamaan yang berbeda saat bersujud di bawah langit terbuka, bersebelahan dengan deru kendaraan yang melintas pelan di jalan raya," ujar salah satu jemaah yang hadir bersama keluarga besarnya.


Pelaksanaan yang Khidmat dan Tertib

​Meski berada di dekat fasilitas publik yang sibuk (SPBU), pelaksanaan salat tetap berlangsung khusyuk. Panitia dari Masjid Al-Madani tampak sigap mengatur barisan (shaf) jemaah yang meluap hingga mendekati pinggir jalan.

​Beberapa poin utama dalam pelaksanaan tahun ini antara lain:

  • Pengamanan: Kerja sama antara remaja masjid dan pengurus masjid memastikan arus lalu lintas di sekitar SPBU tetap lancar.
  • Pesan Khutbah: Khatib menekankan pentingnya menjaga persatuan dan meningkatkan kepedulian sosial di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat.
  • Kedisiplinan Jemaah: Jemaah terlihat tertib membawa perlengkapan salat masing-masing dan menjaga kebersihan lokasi usai ibadah selesai.


​Hingga berita ini diturunkan, rangkaian ibadah telah selesai dan para jemaah mulai membubarkan diri dengan tertib untuk melanjutkan tradisi silaturahmi ke rumah sanak saudara. Lokasi samping SPBU Sitamiang pun kembali bersih, menyisakan jejak kemenangan spiritual bagi warga Masjid Al-Madani.

Catatan Penulis: Lokasi ini tetap menjadi saksi bisu konsistensi jemaah Masjid Al-Madani dalam menjaga syiar Islam di Padangsidimpuan dari tahun ke tahun.






DPD KMB (Krida Manunggal Budaya) Sumut Padangsidimpuan, 21/03/2026